Tampilkan postingan dengan label INSPIRASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INSPIRASI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Januari 2009

Siapapun Anda, Berhak Untuk Kaya

Kekayaan merupakan hasil dari buah pikiran, yang diiringi dengan kemauan kuat, disusul tindakan nyata untuk mewujudkannya. Bukan ketiban rezeki nomplok, mendapat warisan dan sebagainya. Cuma, di tengah lesunya perekonomian saat ini, masih adakah keinginan menjadi kaya ?

Judul di atas, pasti bakal ditanggapi nyinyir. Ataupun menudingnya sekadar jual kecap nomer satu, uto pia belaka, bombastis, tidak rasional dan seabrek suara-suara sumbang lainnya. Maklumlah, di tengah harga kebutuhan pokok yang merangkak naik – sebut saja minyak goreng curah dan susu, belum lagi kondisi perekonomian yang tetap paceklik, secuil pun tak pernah terlintas punya hasrat jadi orang kaya. Asalkan perut tidak keroncongan dan kebutuhan sehari-hari tercukupi, itu pun sudah disyukuri, Alhamdulillah. Jadi, bila meminjam istilah anak gaul sekarang, emang gue pikirin.

Lantas, bila masa paceklik tetap berlanjut - usianya saat ini 10 tahun bila dihitung dari krisis moneter sampai reformasi, apa dong solusinya? Pasrah dengan mengkambinghitamkan keadaan yang tidak kondusif? Atau tetap bertahan dengan pola mengencangkan ikat pinggang, alias hidup sehemat mungkin? Itu pun wajar-wajar saja. Bukan sesuatu yang keliru. Bahkan, cara ini, ditempuh oleh jutaan orang Indonesia. Lagipula, siapa pun orangnya bakal sepakat, yang namanya hidup itu pilihan. Tidak bisa dipaksa, tergantung setiap pribadi yang melakoninya. Di sisi lain, rumusan orang kaya itu, ternyata tidak senyelimet yang dibayangkan. Contohnya, seperti dikatakan oleh Robert T. Kiyosaki, kaya itu bila punya banyak aset ke­timbang liabilitas (kewajiban).
Nah, aset itu sendiri dibatasi segala sesuatu yang masuk kantong. Sedang liabilitas, segala sesuatu yang keluar dari kantong. Jadi, rumah, mobil, apartemen, sepanjang liabilitas, bukanlah aset. Konkritnya, bila sese­orang punya penghasilan Rp100 ribu per bulan, sementara pengeluarannya Rp50 ribu, otomatis orang tersebut sudah kaya.

Dari rumusan itu, agar hidup berkualitas – alias tidak melulu mengencangkan ikat pinggang, satu­-satunya cara ya tidak lain dengan me­nambah penghasilan. Cuma, pertanyaannya, ke mana menambah penghasilan? Itupun bukan pekerjaan mudah, mengingat pekerjaan formal saat ini tetap dihantui oleh Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), rasionalisasi dan sebagainya. Sedang membuka usaha, terbentur urusan modal yang jumlahnya tidak sedikit. Belum lagi risikonya, yang bukan mustahil me­ludeskan seluruh harta.

Temyata, modal menjadi kendala utama dalam membuka usaha, bukan­lah alasan utama. Sebab, hidup me­ngaj arkan, ada di antara mereka yang tidak punya modal, bisa mengem­bangkan usaha yang membuat dirinya menjadi multijutawan. Mau tahu? Lihatlah juragan minyak asal Rusia yang keturunan Yahudi, Roman Abramovich. la merupakan orang ter­kaya di Rusia versi Majalah Forbes, Maret lalu. Kekayaannya mencapai 13,3 miliar dolar, net worth. Sedang Majalah Time, mentahbiskan sebagai salah satu dari 100 orang pa­ling berpengaruh di dunia.
Padahal, lelaki kelahiran 24 Qktober 1966, di Saratov, dekat su­ngai Volga (Rusia Selatan), sejak usia 4 tahun sudah menjadi yatim piatu. la ditinggal ibunya saat berusia 18 bulan. Ayahnya tewas dalam kecelakaan kerja ketika usianya 4 tahun. Sejak itu, ia diasuh oleh pamannya dari pihak ayah, dibesarkan sang kakek bersama keluarga Yahudi di Komi, sebelah barat laut Rusia. Masa kecilnya dilalui dengan kerja keras, seperti mengumpulkan sampah kantung plastik, lalu menjualnya ke bos pemulung untuk membeli sepo­tong roti.

Sayangnya, tak banyak tulisan yang mengungkap sisi kehidupannya, termasuk petualangannya dalam bisnis. Abramovich dikenal sebagai jutawan pasca tumbangnya Uni So­viet, yang menjelma menjadi Rusia. la disebut-sebut sebagai Young Mil­lionaires yang menikmati hembusan angin Glasnost dan Perestroika ala Mikhail Gorbachev, khususnya setelah Boris Yeltsin menjadi penguasa Rusia. Santer juga disebutkan, bos klub sepak bola Chelsea ini, banyak belajar bisnis dari mentornya, pemilik perusahaan minyak terkemuka Rusia, Sibneft, Boris Berezovsky. Sibneft saat ini kepemilikannya dikuasai oleh Abramovich.

Hak Semua Orang
Dari kisah Roman Abramovich itu, menunjukkan uang bukanlah faktor dominan seseorang menjadi jutawan. Sebab, di luar uang, seperti dikatakan oleh Jim Rohn, seorang entrepreneur dan konsultan bisnis asal Amerika Serikat, menyebut ada sembilan hal yang lebih penting me­lebihi dari uang, yang menggerakkan seseorang berani merubah hidupnya. Kesembilan itu meliputi waktu, ke­cemasan, keteguhan, keberanian, ambisi, percaya, kreativitas, hati dan jiwa, serta terakhir kepribadian (lihat Bisnis Plus edisi 14).
Bahkan, ke-miliader-an Abramo­vich itu membuktikan menjadi kaya adalah hak semua orang. Bukan milik segelintir orang, yang diidentikan oleh garis keturunan, tingkat pendidikan, modal yang besar, mendapat rezeki nomplok, warisan maupun undian berhadiah. Alasannya, Ilahi – Sang Pencipta dan pemilik semesta alam ini – tak pernah diskriminatif terhadap ciptaan-Nya. Dia melengkapi setiap bayi yang lahir dengan organ yang sama: otak, mata, tangan, jantung dan sebagainya. Yang berbeda, hanya dalam implementasinya: apakah orang itu optimal menggunakan karunia yang diberikan oleh Ilahi?

Lagipula, meminjam bahasa motivasi, kekayaan merupakan hasil dari buah pikiran, yang diiringi dengan kemauan kuat, disusul tindakan nyata untuk mewujudkannya. Bila masih tidak percaya, lagi-lagi kehidupan banyak memberikan contoh, seperti kisah Kolonel Sanders. Atribut jutawan disandangnya, bukan dalam usia muda. Melainkan saat sepuh (60­an), setelah usaha restorannya digusur pembangunan jalan raya antar negara bagian, Chicago – Florida. la menerima cek jaminan sosial sebesar 104 dolar, 1956.,
Ternyata, uang itu bukan mem­buatnya betah di rumah. la ingin re­nyah ayam gorengnya dinikmati banyak orang. Makanya, selama dua tahun, lelaki kelahiran Corbin, kota kecil di Chicago, 9 September 1880, berkelana menawarkan resep ayam gorengnya ke ribuan restoran di penjuru Amerika Serikat. Selama dua tahun itu pula, ia hidup dengan penolakan, cemoohan dan pelecehan. Toh itu tidak membuatnya jerah. la tidak putus asa; terus menawarkan ayam gorengnya. Dan hasilnya tidak sia-sia. Sejarah mencatat; saat kakinya menginjak di restoran ke 1009, resep ayam gorengnya diterima dengan konsep waralaba. Sampai sekarang, racikan ayam gorengnya sebagai Kentucky Fried Chicken (KFC).

Pertanyaannya, kenapa Kolonel Sander berhasil? Itu tak lain, selain keinginannya yang kuat, meminjam istilah Wallace D. Wattles, seperti ditulis dalam bukunya ber­judul The Science of Get­ting Rich (Ilmu Menjadi Kaya), sebuah karya klasik yang diterbitkan 1910, ka­rena dia bertindak di jalan yang tepat: tidak mau me­nyerah, tetap bertahan dan terus menawarkan resep a­yam gorengnya. Maklum­lah, di mata Wallace, men­jadi kaya hanya soal bagai­mana seseorang mau bela­jar mengerjakan sesuatu (bertindak) di jalan yang tepat.

Contohnya, ada dua orang yang mengelola res­toran di lokasi yang sama. Namun, setelah berusaha keras, seseorang tidak ber­hasil, alias tidak menjadi kaya. Sedang pesaingnya berhasil. Usaha restoran­nya maju pesat. Pastilah o­rang yang tidak berhasil itu, bukan lantaran lokasinya yang sama, tapi karena or­ang itu tidak mengerjakan segala sesuatunya seperti dijalankan oleh pesaingnya.
Begitupun keinginan yang kuat, tanpa tindakan yang tepat, hasilnya pun bakal sia-sia. Di sini ada ce­rita soal penambang emas di Colorado, Amerika Se­rikat, yang terus melaku­kan penggalian, mengikuti “urat emas” pada tanah ter­sebut. Namun, di sebuah tempat, tiba-tiba saja “urat emas” itu menghilang. Me­reka terus berusaha meng­gali menemukan “urat emas” tadi. Namun, semua upaya yang dilakukan sia­sia. “Urat emas” itu benar­benar tidak dapat ditemu­kan. Mereka akhirnya me­nyerah, menjual mesinnya pada tukang loak.
Ternyata, tukang loak itu bertindak dengan tepat. Dia tidak langsung menggali tanah, melainkan memang­gil insinyur pertambangan untuk meninjau lokasi penggalian dan membuat sedikit perhitungan. Akhir­nya, setelah seksama mem­perhatikan, insinyur itu memberitahukan bahwa kegagalan “proyek” itu ka­rena pemiliknya tidak me­ngetahui “jalur patahan”, Perhitungannya “urat e­mas” akan ditemukan ha­nya sejauh tiga langkah dari penggalian terakhir. Dan nyatanya, di situlak emas ditemukan, yang membuat si tukang loak itu berubah menjadi miliarder.

Penelitian Thomas J. Stanley, tentang :,aru bagai­mana menjadi kaya, mem­buktikan siapa pun Anda – tanpa mengenal latar bela­kang status sosial, berhak menjadi kaya, asalkan mempunyai hasrat dan keinginan membara, dan bertindak berdasarkan fantasinya.
Lihat saja peneli­tiannya selama 12 tahun tentang jutawan di Amerika Serikat, berasal dari pel­bagai lapisan sosial. Dari mulai kalangan terendah sampai tertinggi, latar pendidikan yang buruk sampai baik, dan beberapa di antaranya punya kelema­han fisik.
Satu-satunya per­samaan mereka: memiliki impian meraih sukses (kaya). Mereka itu, dinilai­nya merupakan orang biasa, yang berusaha mendapat­kan hasil luar biasa. Thomas dan rekan­nya, William D. Dangko, seperti ditulis dalam buku mereka, The Millionaire Next Door, menyimpulkan keliru bila kekayaan itu bisa dihasilkan karena keberun­tungan, warisan, pendidi­kan yang tinggi, atau kecer­dasan yang memungkinkan seseorang bisa mengum­pulkan kekayaan. Sebetul­nya, kekayaan adalah hasil kerja keras, keuletan, pe­rencanaan, dan yang paling utama adalah disiplin diri. Nah persoalannya, masih adakah hasrat dan keinginan menjadi orang kaya di tengah ekonomi yang tetap paceklik saat ini? Lagi-lagi nurainilah yang menjawabnya.

Sabtu, 20 Desember 2008

MENGEJAR IMPIAN



Setiap orang mempunyai impian. Masing-masing orang tentu memiliki impian berbeda-beda. Ada yang mempunyai impian menjadi miliarder papan atas di dunia, mempunyai bisnis yang besar, mempunyai yayasan sosial yang besar dan canggih, berpengaruh dan terkenal di seluruh jagat, menjadi profesor ternama, menemukan mesin spektakuler, menjadi pelawak terkenal di seluruh dunia, mendapatkan pasangan hidup yang kaya dan terkenal dan lain sebagainya.

Impian itu merupakan hal besar yang mungkin mustahil diwujudkan bila dilihat dalam kondisi Anda sekarang ini. Tetapi sebenarnya impian merupakan langkah menuju sukses yang teramat penting. Tentang apakah impian tersebut terwujud atau tidak semuanya ada di tangan Anda sendiri.

Ada yang lebih cepat mewujudkan impian, ada pula yang lambat, bahkan ada yang tidak berhasil karena tidak melakukan langkah apa pun untuk mewujudkan impian tersebut. Ibarat Anda mengendarai mobil menuju sebuah tujuan yaitu impian tadi, terkadang lebih cepat sampai atau lebih lambat karena kondisi jalan berkelok, bergelombang atau banyak batu sandungan. Tak jarang diantara kita tak pernah sampai ke tempat tujuan karena hanya menggerutu dan mengutuk kondisi medan jalan yang sulit ditempuh atau terlalu lama tidur di tepi jalan.

Umumnya setiap proses menuju impian terasa tidak begitu mudah dilalui. Ada saja tantangan meskipun Anda sudah melakukan yang terbaik, sehingga membutuhkan usaha yang berulang-ulang, perhatian dan perjuangan ekstra. Tantangan tersebut bukanlah kegagalan. Bahkan bila kita cermati, tantangan itu membentuk diri Anda menjadi lebih baik dalam berbagai hal.

Jadi jangan mudah putus asa dan kehilangan keberanian untuk mencoba lagi mewujudkan impian. Tingkatkan kemauan Anda. Maka pintu kesempatan untuk mewujudkan impian akan selalu terbuka lebar.Jonathan, teman saya semasa SMA begitu mencintai dunia bisnis dan bermimpi untuk mengabdikan hidupnya di dunia tersebut. Beberapa tahun kemudian usahanya berkembang pesat dan menggurita. Hidupnya bergelimang kesuksesan.

Namun di usia 40 tahun ia tersadar akan impiannya mengabdi di dunia pendidikan. Sehingga ia memutuskan untuk kembali menempuh pendidikan. Kemudian ia berhasil menyelesaikan pendidikan S2 dan S3. Saat ini ia sudah menjadi seorang profesor di sebuah universitas ternama di Malaysia. “Setelah mengelilingi seputaran, baru aku temui diriku yang sebenarnya. Kini aku memulai kehidupanku yang baru,” katanya.

Sebenarnya masih banyak lagi contoh orang-orang yang sudah berhasil meraih impian. Jika mereka berhasil, lalu mengapa sebagian besar diantara kita belum mencapainya? Seperti yang sudah saya singgung tadi, jawabannya adalah karena kita belum melaksanakan tindakan untuk menjemput impian tersebut.Tindakan yang saya maksud adalah melakukan sesuatu untuk mendekatkan diri pada tujuan. Jika tidak dapat melakukan tindakan secara lebih cepat, Anda dapat memulainya secara perlahan. Tetapi pastikan Anda selalu melakukan sesuatu untuk tiba pada impian itu.

Belajar dari salah seorang teman saya yang bermimpi suaminya kelak adalah pria yang sukses dalam karir dan mencintai dirinya sepenuh hati. Oleh sebab itu ia sangat berhati-hati memilih teman dekatnya. Sampai-sampai mayoritas teman-teman dan kerabatnya pesimis, karena di usia sudah memasuki 30 tahun ia belum menemukan pendamping.

Tetapi kemauannya begitu kuat dan tidak pernah putus asa mencari sekaligus menunggu. Di usia 35 tahun barulah ia berhasil menemukan pria yang dia impikan. Meskipun agak terlambat, tetapi ia berhasil mendapatkan apa yang sangat ia dambakan. Bahkan sekarang kebahagiaannya semakin lengkap setelah dikaruniai seorang anak lelaki.

Selain tindakan, untuk sampai kepada impian juga butuh sikap konsisten. Artinya Anda siap menghadapi tantangan dalam proses pencapaian impian, sekalipun Anda harus keluar dari zona nyaman. “In Dreams Begin Responsibilities. Tanggung jawab bermula dari sebuah impian,” kata Delmore Schwartz. Sekali Anda bersikap konsisten, maka Anda akan selalu menemukan kekuatan untuk terus melanjutkan perjuangan hingga tiba pada tujuan.

Seperti teman saya lainnya sebut saja Desi, meskipun baru berusia 30 tahun ia mempunyai karir sangat cemerlang dan mempunyai keluarga yang harmonis. Hidupnya sukses dan bahagia. Tetapi ia masih mempunyai impian untuk menyelesaikan pendidikan sarjana yang tertunda sejak 7 tahun yang lalu.

Demi mengejar impian tersebut ia tidak segan keluar dari zona nyaman. Sebagaimana Jiminy Cricket menyatakan, “When your heart is in your dreams, no request is too extreme. – Ketika impian itu tertanam di hati Anda, tak kan ada yang terasa berat untuk dilakukan.” Oleh sebab itu, Desi justru menikmati aktivitasnya belajar di sebuah universitas swasta di Jakarta dua kali dalam satu minggu. Sesampainya di rumah ia juga masih menyempatkan diri untuk belajar. Motivasinya semata-mata hanya ingin mengejar impian yang tertunda, bukan sekedar mencari selembar ijasah atau tergiur posisi lebih strategis di kantor setelah mendapatkan gelar sarjana nanti.

Impian mungkin hanya merupakan khayalan belaka. Tetapi jika impian tersebut disertai dengan tindakan, sikap konsisten, dan kemauan untuk berjuang keras meskipun harus keluar dari zona nyaman ditambah dengan rasa syukur dan doa maka akan menjadikan diri kita lebih pintar, kreatif dan kehidupan kita lebih terarah. Jika Anda ingin meningkatkan produktivitas diri dan kualitas kehidupan, maka pastikan Anda mempunyai impian dan berusaha maksimal untuk mengejarnya.

[aho]
*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller.

KEKUATAN CINTA


By : Jumadi Subur

Segala sesuatu berawal dari motivasi. Ia adalah landasan bagi setiap aktivitas yang dilakukan manusia. Dalam terminologi religi, ia dipahami sebagai niat. Dan, seperti yang kita ketahui bahwa segala sesuatu sangat bergantung pada niat.

Hidup ini penuh rintangan. Kita sering mendengar orang-orang mengatakan kalimat tersebut. Bukan hidup saja yang penuh rintangan, sesungguhnya motivasi itu sendiri punya banyak rintangan. Rintangan motivasi inilah yang saya sebut dengan belenggu. Ada beberapa belenggu yang perlu diwaspadai agar motivasi tidak padam, yaitu usia, orang terdekat atau keluarga, lingkungan, dan diri kita sendiri. Jika dijabarkan lebih lanjut, akan muncullah beberapa contoh rintangan yang membuat diri kita terkungkung dalam belenggu tersebut.

Tanpa disadari, kitapun sering terbelenggu oleh perasaan sendiri, seperti takut gagal, takut terhadap perubahan, terlalu berpuas diri, serta ragu-ragu dalam memandang dan memaknai kegagalan dan kesuksesan. Semua faktor tersebut bisa menghalangi diri kita untuk maju, terutama perasaan takut gagal. Biasanya, orang yang merasa takut gagal adalah orang yang tidak memiliki rasa percaya diri. Akibatnya, ia takut untuk mengambil resiko. Padahal, untuk mencapai keberhasilan diperlukan keberanian untuk mengambil resiko. Seperti kata Soichiro Honda (pendiri perusahaan otomatif Honda) bahwa sukses adalah 99% terbentuk dari kesalahan dan kegagalan.

Agar terlepas dari belenggu, kita harus menemukan sumber inspirasi. Inspirasi adalah sesuatu yang bisa mengilhami kita untuk melakukan tindakan dalam mewujudkan cita-cita ataupun melakukan kegiatan sosial sebagai bentuk aktualisasi diri. Sumber inspirasi bisa didapatkan dari dan dimana saja. Salah satunya adalah dari buku biografi orang-orang terkenal. Dari situ kita bisa belajar tentang perjuangan mereka untuk mencapai keberhasilan.

Sebuah dongeng menceritakan tentang seorang pemuda yang diserang oleh sesosok makhluk yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana. Pemuda itu sibuk menghindari serangan sambil sesekali melompati kubangan air yang menggenangi jalanan di gang yang dilewatinya. Setiap kali diserang, ia mundur beberapa langkah. Namun, kembali makhluk itu menyerangnya.

Karena merasa diserang terus, pemuda itu memperhatikan sekelilingnya. Ternyata, makhluk yang telah menyerangnya beberapa kali itu adalah seekor kupu-kupu mungil yang cantik. Ia makin penasaran mengapa kupu-kupu mungil itu menyerangnya terus.

Lalu, untuk kali kedua, pandangan pemuda itu menyisir jalanan di depannya. Saat itu, ia melihat seekor kupu-kupu lainnya tergeletak di atas tanah dalam keadaan sekarat. Ia menduga kupu-kupu yang menyerangnya itu berusaha untuk melindungi saudaranya yang sekarat agar tidak terinjak olehnya.

Menurut Anda, mengapa kupu-kupu mungil itu berjuang habis-habisan untuk melindungi saudaranya hingga berani menyerang manusia? Kupu-kupu mungil melakukan semua itu didorong oleh satu kekuatan yang dimiliki oleh semua makhluk di dunia ini, yaitu kekuatan CINTA!!!.

Cinta adalah sumber motivasi yang tiada habisnya. Dengannya manusia rela mempertaruhkan segalanya. Cinta adalah inspirasi. Dan, dengan cinta juga mari kita berbagi menyampaikan bagaimana mengatasi permasalahan motivasi dan menghadapi rintangan-rintangan.

Satu hal yang pasti, kesuksesan tidak dapat diraih begitu saja tanpa perjuangan, atau dengan kata lain, tidak ada kesuksesan tanpa kegagalan. Orang yang tidak pernah mengalami kegagalan berarti ia belum mencapai kesuksesan!?.


KEGAGALAN MENGANTARKAN KESUKSESAN


Oleh : Ahmad Salim Baduwailan

Agar kita mengetahui kesuksesan, maka kita terlebih dahulu harus mengetahui kegagalan. Kegagalan tidak lain adalah tidak membuat tujuan secara jelas, sehingga seseorang bekerja tanpa rencana matang meskipun banyak menjumpai rintangan. Kalau kesuksesan merupakan pilihan yang ingin kita wujudkan, demikian juga dengan kegagalan.

Ketika kita melihat orang yang kehilangan tujuan dan motivasi untuk meraih kesuksesan, maka sama saja kita melihat orang yang hidup tanpa cita-cita. Mereka itu sebenarnya tidak pernah menikmati kehidupan mereka. Bahkan, mereka akan merasa bahwa hidup ini penuh dengan kegagalan.

Seorang ilmuwan besar ditanya setelah dia melakukan uji coba sebanyak 100 kali dan masih gagal,” Apakah Anda merasa gagal?”, “Tidak” jawabnya, “bahkan aku telah belajar 100 cara untuk meraih kesuksesan.

Karena tekadnya yang sangat kuat, ilmuwan besar itupunakhirnya meraih kesuksesan. Dia tidak akan berhasil mencapai hasil gemilang kalau tidak menempuh jalan kesuksesan dengan mencoba 100 cara. Karena keuletannya tersebut mustahil jika dia tidak meraih sukses setelah mencobanya berulang kali.

Kita keliru ketika menggunakan kalimat, “Aku sudah mencoba” hanya untuk mencari pembenaran untuk kegagalan kita. Ketika kita mempunyai tujuan yang ingin kita capai, maka saat itulah warna yang tersisa hanya dua, yakni putih atau hitam, keberhasilan atau kegagalan. Tak ada lagi istilah lain yang tersisa selain keduanya.

Namun demikian, kesuksesan yang hilang terlalu cepat tidak bisa di klaim sebagai suatu kegagalan. Setidaknya kesuksesan sesaat tersebut menjadi sejumlah informasi yang bisa membantu kita untuk kembali mengatur peta dan mengubah strategi demi mencapai tujuan yang diharapkan.
Oleh karena itu, ungkapan, “Aku sudah mencoba,” dapat menghentikan gerak langkah seseorang. Padahal dia musti terus melangkah demi mencapai tujuan yang diinginkan.

Sesering apapun orang jatuh dan terpeleset ketika hendak mencapai puncak gunung, tidak secara otomatis menjadi bukti kalau nantinya dia berhasil mencapai puncak gunung tersebut. Satu-satunya bukti yang bisa menunjukkan bahwa dia akan berhasil mencapai puncak gunung adalah ketika dia mau bangkit lagi setiap kali dia terjatuh.

Ketika seseorang mengatakan, “Aku telah berusaha tetapi tidak berhasil,” berarti dia telah gagal. Ungkapan ini menunjukkan bahwa dia berhenti untuk bangkit untuk mewujudkan harapannya. Dengan kata lain, ungkapan ini merupakan pembenaran atas kegagalan dan kelemahannya, kedua hal ini sama-sama tidak berguna.

Contoh konkrit yang lain, letakkan sebuah pensil di atas meja! Lalu cobalah untuk mengangkatnya! Dalam kasus ini ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, Anda benar-benar mengangkatnya atau justru sebaliknya. Ketika Anda mengangkat pensil, sebenarnya Anda tidak sekedar “berusaha” mengangkat pensil itu, tetapi juga benar-benar telah mengangkatnya. Memang sebuah usaha memiliki nilai penting dalam proses pembelajaran dan pelatihan. Namun, dalam kehidupan nyata, jangan sampai sebuah usaha disalahgunakan sehingga hanya menjadi kambing hitam atas kegagalan yang terjadi.

JALAN MENUJU SUKSES

By : Jumadi Subur

Kisah inspiratif jalan menuju sukses.

Seorang anak muda bertanya kepada gurunya : “Guru, bisakah engkau tunjukkan kepadaku, dimanakah jalan menuju sukses?”
“Hmm…..” sang guru terdian sejenak. Tanpa mengucapkan sepatah kata tangannya menunjuk ke arah sebuah jalan. Anak muda itu segera berlari menyusuri jalan tersebut. Ia tidak mau membuang-buang waktu untuk meraih kesuksesan.

Setelah beberapa saat melangkah, tiba-tiba anak muda itu berseru, “Ha?! Ini jalan buntu”.
Benar, dihadapan anak muda itu berdiri sebuah tembok besar yang menutupi jalan, ia terpaku kebingungan. Dan akhirnya iapun berbalik menemui gurunya untuk bertanya sekali lagi.

“Guru, yang manakah jalan menuju sukses?”

Sang guru tetap menunjuk kearah jalan yang sama. Anak itu kembali berjalan kesana. Namun tetap saja, yang ia temukan hanyalah sebuah tembok yang menutupi jalannya. Ia berpikir bahwa apa yang dikatakan gurunya adalah sebuah gurauan sehingga dirinya merasa dipermainkan. Dengan penuh emosi dan amarah, ia kembali menemui sang guru.

“Guru, aku sudah menuruti petunjukmu. Akan tetapi aku hanya menemukan sebuah jalan buntu. Aku tanyakan sekali lagi kepadamu, yang manakah jalan menuju sukses? Jangan engkau hanya menunjukkan jari saja, bicaralah!”.

Sang guru akhirnya membuka mulut. “Disitulah jalan menuju sukses. Hanya beberapa langkah saja dibalik tembok itu”.

Nah, siapa bilang tembok adalah tujuan akhir?

Banyak jalan mencapai tujuan akhir. Ada yang terjal dan mendaki, ada yang lurus dan mulus, ada yang berliku, ada yang hanya melewati jalan biasa, serta ada juga yang harus melampaui tembok tinggi.

Selain jalannya berbeda, pelakunyapun berbeda. Ada orang yang memiliki bekal memadai dan ada yang kekurangan, bahkan dalam keterbatasan. Ada juga orang yang memiliki tubuh kuat dan perkasa, ada yang bertubuh kecil, kurus atau bahkan cacat.

Proses perjuangan setiap orang berbeda-beda. Ada orang yang tahan melakukan perjalanan jauh dan ada pula yang menyerah ditengah perjalanannya. Ada yang kuat menahan haus, lapar, terpaan angin, hujan, panas, dingin, dan ada juga yang menyerah pada keadaan. Akhirnya ada yang bahagia dengan kesuksesannya, dan ada pula yang terkubur dalam kegagalan. Seperti itulah jalan menuju sukses..

Ada orang yang sukses dalam hidupnya karena memang ia ‘mewarisi’ bakat kesuksesan. Orang berbakat memiliki otak yang cerdas, fisik yang baik, kemampuan melebihi yang lainnya, pendidikan memadai, keterampilan yang mendukung, dan lingkungan keluarga yang harmonis.

Namun kesuksesan tidak sepenuhnya hanya dapat diraih karena ‘mewarisi’ bakat kesuksesan. Seseorang yang sebelumnya serba kekurangan, pada akhirnya ia menjadi orang yang sukses. Banyak orang yang mengalami perubahan positif. Ada orang yang pada masa kecilnya tergolong berkemampuan di bawah rata-rata, namun kemudian ia menjadi seorang penemu yang brilian. Ada pula orang yang memiliki keterbatasan pada fisiknya, namun tidak ada yang membatasi semangat untuk mengembangkan kemampuannya sehingga pada akhirnya ia menjadi juara olimpiade, motivator dunia, bahkan presiden. Orang-orang dengan semangat sukses membara dalam dirinya tampil menjadi tokoh dunia yang dikenang sepanjang jaman.

Itulah liku-liku kesuksesan. Dan hanya ada satu kepastian, mereka menjadi pemenang karena berhasil meniti jalan menuju garis akhir.
Mereka sukses karena tahan menghadapi ujian dan berani bangkit dari kegagalan. Mereka berhasil karena sanggup mematahkan belenggu yang ada dalam hati mereka.

Kamis, 18 Desember 2008

MENGEJAR IMPIAN


Setiap orang mempunyai impian. Masing-masing orang tentu memiliki impian berbeda-beda. Ada yang mempunyai impian menjadi miliarder papan atas di dunia, mempunyai bisnis yang besar, mempunyai yayasan sosial yang besar dan canggih, berpengaruh dan terkenal di seluruh jagat, menjadi profesor ternama, menemukan mesin spektakuler, menjadi pelawak terkenal di seluruh dunia, mendapatkan pasangan hidup yang kaya dan terkenal dan lain sebagainya.

Impian itu merupakan hal besar yang mungkin mustahil diwujudkan bila dilihat dalam kondisi Anda sekarang ini. Tetapi sebenarnya impian merupakan langkah menuju sukses yang teramat penting. Tentang apakah impian tersebut terwujud atau tidak semuanya ada di tangan Anda sendiri.

Ada yang lebih cepat mewujudkan impian, ada pula yang lambat, bahkan ada yang tidak berhasil karena tidak melakukan langkah apa pun untuk mewujudkan impian tersebut. Ibarat Anda mengendarai mobil menuju sebuah tujuan yaitu impian tadi, terkadang lebih cepat sampai atau lebih lambat karena kondisi jalan berkelok, bergelombang atau banyak batu sandungan. Tak jarang diantara kita tak pernah sampai ke tempat tujuan karena hanya menggerutu dan mengutuk kondisi medan jalan yang sulit ditempuh atau terlalu lama tidur di tepi jalan.

Umumnya setiap proses menuju impian terasa tidak begitu mudah dilalui. Ada saja tantangan meskipun Anda sudah melakukan yang terbaik, sehingga membutuhkan usaha yang berulang-ulang, perhatian dan perjuangan ekstra. Tantangan tersebut bukanlah kegagalan. Bahkan bila kita cermati, tantangan itu membentuk diri Anda menjadi lebih baik dalam berbagai hal.

Jadi jangan mudah putus asa dan kehilangan keberanian untuk mencoba lagi mewujudkan impian. Tingkatkan kemauan Anda. Maka pintu kesempatan untuk mewujudkan impian akan selalu terbuka lebar.Jonathan, teman saya semasa SMA begitu mencintai dunia bisnis dan bermimpi untuk mengabdikan hidupnya di dunia tersebut. Beberapa tahun kemudian usahanya berkembang pesat dan menggurita. Hidupnya bergelimang kesuksesan.

Namun di usia 40 tahun ia tersadar akan impiannya mengabdi di dunia pendidikan. Sehingga ia memutuskan untuk kembali menempuh pendidikan. Kemudian ia berhasil menyelesaikan pendidikan S2 dan S3. Saat ini ia sudah menjadi seorang profesor di sebuah universitas ternama di Malaysia. “Setelah mengelilingi seputaran, baru aku temui diriku yang sebenarnya. Kini aku memulai kehidupanku yang baru,” katanya.
Sebenarnya masih banyak lagi contoh orang-orang yang sudah berhasil meraih impian. Jika mereka berhasil, lalu mengapa sebagian besar diantara kita belum mencapainya? Seperti yang sudah saya singgung tadi, jawabannya adalah karena kita belum melaksanakan tindakan untuk menjemput impian tersebut.
Tindakan yang saya maksud adalah melakukan sesuatu untuk mendekatkan diri pada tujuan. Jika tidak dapat melakukan tindakan secara lebih cepat, Anda dapat memulainya secara perlahan. Tetapi pastikan Anda selalu melakukan sesuatu untuk tiba pada impian itu.

Belajar dari salah seorang teman saya yang bermimpi suaminya kelak adalah pria yang sukses dalam karir dan mencintai dirinya sepenuh hati. Oleh sebab itu ia sangat berhati-hati memilih teman dekatnya. Sampai-sampai mayoritas teman-teman dan kerabatnya pesimis, karena di usia sudah memasuki 30 tahun ia belum menemukan pendamping.

Tetapi kemauannya begitu kuat dan tidak pernah putus asa mencari sekaligus menunggu. Di usia 35 tahun barulah ia berhasil menemukan pria yang dia impikan. Meskipun agak terlambat, tetapi ia berhasil mendapatkan apa yang sangat ia dambakan. Bahkan sekarang kebahagiaannya semakin lengkap setelah dikaruniai seorang anak lelaki.
Selain tindakan, untuk sampai kepada impian juga butuh sikap konsisten. Artinya Anda siap menghadapi tantangan dalam proses pencapaian impian, sekalipun Anda harus keluar dari zona nyaman. “In Dreams Begin Responsibilities. Tanggung jawab bermula dari sebuah impian,” kata Delmore Schwartz. Sekali Anda bersikap konsisten, maka Anda akan selalu menemukan kekuatan untuk terus melanjutkan perjuangan hingga tiba pada tujuan.

Seperti teman saya lainnya sebut saja Desi, meskipun baru berusia 30 tahun ia mempunyai karir sangat cemerlang dan mempunyai keluarga yang harmonis. Hidupnya sukses dan bahagia. Tetapi ia masih mempunyai impian untuk menyelesaikan pendidikan sarjana yang tertunda sejak 7 tahun yang lalu.
Demi mengejar impian tersebut ia tidak segan keluar dari zona nyaman. Sebagaimana Jiminy Cricket menyatakan, “When your heart is in your dreams, no request is too extreme. – Ketika impian itu tertanam di hati Anda, tak kan ada yang terasa berat untuk dilakukan.” Oleh sebab itu, Desi justru menikmati aktivitasnya belajar di sebuah universitas swasta di Jakarta dua kali dalam satu minggu. Sesampainya di rumah ia juga masih menyempatkan diri untuk belajar. Motivasinya semata-mata hanya ingin mengejar impian yang tertunda, bukan sekedar mencari selembar ijasah atau tergiur posisi lebih strategis di kantor setelah mendapatkan gelar sarjana nanti.

Impian mungkin hanya merupakan khayalan belaka. Tetapi jika impian tersebut disertai dengan tindakan, sikap konsisten, dan kemauan untuk berjuang keras meskipun harus keluar dari zona nyaman ditambah dengan rasa syukur dan doa maka akan menjadikan diri kita lebih pintar, kreatif dan kehidupan kita lebih terarah. Jika Anda ingin meningkatkan produktivitas diri dan kualitas kehidupan, maka pastikan Anda mempunyai impian dan berusaha maksimal untuk mengejarnya.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller.

SAYA MAU BERUBAH

Dikisahkan, di sebuah seminar motivasi, setelah mendengar banyak kiat-kiat dan pelajaran di sana, saatnya para peserta pulang dengan membawa kesan dan semangat yang membara untuk dipraktekkan di kehidupan mereka lebih lanjut. Di antara mereka, beberapa orang tampak mengalami kemajuan yang berarti.
Mereka yang merasakan manfaat dan sangat terbantu setelah mengikuti seminar tersebut, memberitahu teman dan saudara-saudaranya bahwa seminar yang diikutinya sangat bagus dan luar biasa. Dia mulai melakukan anjuran yang diajarkan dan mengalami perubahan cara pandang dan kebiasaannya. Dikesehariaannya, dia berusaha terus menyemangati diri sendiri, aktif mengikuti kegiatan yang positif, mengarahkan seluruh perhatiannya pada usaha yang dijalankan, dan hasilnya....perubahan yang luar biasa dikehidupannya! Mengalami kemajuan dan bersyukur!
Ada kelompok yang lain. Setelah mengikuti seminar, mereka juga tampak bersemangat, bersiap-siap untuk mengadakan perubahan, membuat rencana sedetil mungkin. Sayangnya, setelah beberapa saat, rencana yang dibuat tetaplah rencana. Blok mental karena kebiasaan yang dijalani selama ini yakni malas, menunda, tidak bisa menerima penolakan, cepat putus asa saat mengalami benturan, serta cara pandangnya yang negatif terhadap sekelilingnya menyebabkan dia kembali ke pola lama dan mulai menyalahkan keadaan disekelilingnya yang dituduh tidak mendukung dia.
Akhirnya, saat ditanya, Anda pernah mengikuti seminar motivasi? "Oya. Saya pernah mengikutinya, seminar yang bagus, pesertanya banyak dan pembicaranya hebat tetapi apa yang diajarkan tidaklah mudah untuk dijalankan. Karena sukseskan milik orang-orang tertentu, dan sayangnya saya bukanlah orang itu."
Kelompok yang lain lagi. Setelah mengikuti seminar, dia pun mulai mencoba membuat perubahan. Sayangnya, upayanya tidak terlalu kuat sehingga saat orang-orang disekililingnya tidak menyukai perubahan yang dicobanya, dia pun merasa dijauhi dan tidak diterima dilingkungannya. Akhirnya, sudah bisa ditebakkan?

Pembaca yang budiman,
Seminar sehebat apapun, teknik secanggih apapun, rumus teori seampuh apapun, selamanya tidak akan mampu merubah manusia jika manusia itu sendiri tidak mau merubah dirinya sendiri!

Bagi saya kehidupan adalah ruang kuliah atau tempat belajar tanpa batas, bagi pembelajar sejati setiap orang bisa menjadi guru bagi dirinya sendiri, bagi pembelajar tulen cepat sekali menyerap apa yang terjadi disekelilingnya dan dengan cerdas mampu mencerna sebagai bahan belajar untuk kemajuan karier dan hidupnya.

Jadi akhirnya semua kembali pada diri sendiri, bagaimana kita mengelola pikiran dan sikap mantal dalam menghadapi perubahan, sekaligus secara tegas mau berubah hingga mampu mengaktualisasikan diri sampai ke puncak kesuksesan.
Andrie Wongso